Manajemen.umsida.ac.id– Nilai akademik tinggi belum tentu menjamin kesuksesan seseorang. Dunia profesional juga membutuhkan kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.
Pesan tersebut mengemuka dalam Kuliah Tamu Etika Bisnis Umsida. Kegiatan berlangsung pada Jumat (23/10/2026) di Aula Mas Mansyur. Lokasinya berada di GKB 2, Kampus 1 Umsida.
Sebanyak 200 mahasiswa Program Studi Manajemen mengikuti kegiatan tersebut. Mereka diajak memahami pentingnya karakter sebelum memasuki dunia kerja.
Kegiatan ini mengusung tema From Campus to Community. Fokusnya membangun mahasiswa berintegritas, beretika, dan berdampak sosial.
Dua narasumber hadir memberikan wawasan kepada mahasiswa. Mereka adalah Dr Muchammad Firman Mauludin SE MM CRP. Narasumber berikutnya yakni Dr Rifdah Abadiyah SE MM CHCM.
Diskusi dipandu Herlinda Maya Kumala Sari SE MM.
Integritas Menjadi Bekal Dunia Profesional
Ketua Prodi Manajemen, Mochamad Rizal Yulianto SE MM, membuka kegiatan. Ia menegaskan pentingnya membangun karakter selama menempuh pendidikan.
“Mahasiswa tidak hanya dituntut unggul secara akademik,” ujarnya.
“Mereka juga perlu memiliki integritas dan kepedulian sosial,” lanjutnya.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami tanggung jawab di balik setiap keputusan. Pendidikan tinggi harus menghasilkan lulusan berpengetahuan sekaligus berkarakter.
Wakil Rektor III Umsida, Dr Nurdyansyah MPd, turut memberikan sambutan. Ia mengingatkan mahasiswa tentang tanggung jawab sosial setelah memperoleh ilmu.
“Ilmu yang diperoleh di kampus harus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Pesan tersebut memperkuat tujuan penyelenggaraan kuliah tamu ini.
Jangan Hanya Membangun CV

Pemateri pertama, Firman, menyampaikan materi Lebih dari Sekadar Pintar. Ia membahas pentingnya karakter dalam membangun karier profesional.
Menurutnya, kemampuan akademik memang membantu seseorang memperoleh peluang kerja. Namun, kepercayaan membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar.
“Kecerdasan membuka peluang. Etika dan integritas menjaga kepercayaan,” jelas Firman.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak hanya mengejar pencapaian akademik. Reputasi seseorang juga terbentuk melalui perilaku sehari-hari.
Kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab menjadi fondasi penting. Ketiganya perlu dibiasakan sejak berada di bangku kuliah.
Firman kemudian memberikan pesan mengenai persiapan memasuki dunia profesional.
“Jangan hanya membangun CV. Bangun juga karakter, reputasi, dan kepercayaan,” ungkapnya.
Pesan tersebut mengajak mahasiswa melihat kesuksesan dari perspektif berbeda. Prestasi menjadi lebih bermakna ketika disertai karakter yang baik.
Etika Dimulai dari Kebiasaan

Sesi berikutnya menghadirkan Rifdah dengan materi PHIWM dalam Kehidupan Mahasiswa. PHIWM merupakan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah.
Ia menjelaskan pentingnya menerapkan nilai Islam dalam keputusan sehari-hari. Menurutnya, pemahaman agama harus tercermin melalui tindakan nyata.
“Nilai Islam. Keputusan nyata,” ungkap Rifdah.
Penerapannya dapat dimulai melalui kejujuran ketika mengerjakan tugas. Mahasiswa juga perlu menghargai kontribusi setiap anggota kelompok.
Selain itu, penggunaan kecerdasan buatan membutuhkan tanggung jawab akademik. Mahasiswa harus cermat memeriksa informasi sebelum menggunakannya.
Etika juga berlaku ketika berinteraksi melalui ruang digital. Setiap keputusan perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan semakin memahami tanggung jawabnya. Mereka tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga profesional.
Lebih jauh, mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan tema From Campus to Community.
Sebab, kesuksesan bukan sekadar tentang seberapa tinggi pencapaian seseorang. Keberhasilan juga tercermin melalui integritas dan manfaat bagi sesama.
Sumber: Aslab Manajemen
Editor: Selvy Dwi Machmuda


















