Manajemen.umsida.ac.id – Keputusan perusahaan dalam menentukan sumber pendanaan tidak hanya bergantung pada kebutuhan modal, tetapi juga pada kondisi keuangan internal.
Perusahaan yang memiliki laba kuat dan kemampuan membayar kewajiban jangka pendek biasanya memiliki ruang lebih besar untuk mengurangi ketergantungan terhadap utang.
Isu tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)” yang dilakukan oleh Ika Oktaviyanti SE MM, dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Penelitian ini membahas struktur modal perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
Melalui perspektif Pecking Order Theory, penelitian tersebut menyoroti bagaimana profitabilitas dan likuiditas dapat memengaruhi keputusan perusahaan dalam menggunakan dana internal maupun pendanaan eksternal.
Baca juga: Pecking Order Theory Ungkap Urutan Aman Pendanaan Perusahaan Manufaktur
Laba Kuat Tekan Kebutuhan Utang

Profitabilitas menjadi salah satu indikator penting dalam membaca kemampuan perusahaan membiayai aktivitas bisnisnya.
Perusahaan dengan tingkat laba yang baik umumnya memiliki dana internal yang lebih besar.
Dana tersebut dapat berasal dari keuntungan usaha atau laba ditahan yang digunakan kembali untuk mendukung operasional dan pengembangan bisnis.
Dalam perspektif Pecking Order Theory, perusahaan cenderung memilih sumber dana internal terlebih dahulu sebelum menggunakan utang.
Pilihan ini dianggap lebih aman karena perusahaan tidak perlu menanggung beban bunga dan risiko tambahan dari pihak luar.
“Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mampu menghasilkan laba secara konsisten memiliki posisi lebih kuat dalam menentukan strategi pendanaan. Mereka tidak harus langsung bergantung pada utang ketika membutuhkan modal,” jelas Ika.
Bagi perusahaan manufaktur, kemampuan menghasilkan laba sangat penting karena sektor ini membutuhkan biaya besar untuk bahan baku, mesin, tenaga kerja, distribusi, dan pengembangan produk.
Jika profitabilitas kuat, perusahaan memiliki fleksibilitas lebih besar dalam menjaga struktur modal tetap sehat.
Lihat juga: Gen Z dan Budaya Digital: Saat Konsumsi Menjadi Identitas Sosial
Likuiditas Menjaga Stabilitas Keuangan
Selain profitabilitas, likuiditas juga berperan penting dalam keputusan struktur modal.
Likuiditas menggambarkan kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendek, seperti pembayaran utang lancar, biaya operasional, dan kebutuhan kas harian.
Perusahaan dengan likuiditas tinggi biasanya lebih siap menghadapi tekanan keuangan.
Mereka memiliki cadangan aset lancar yang cukup untuk memenuhi kewajiban tanpa harus segera mencari pinjaman baru.
Kondisi ini membuat kebutuhan terhadap pendanaan eksternal dapat ditekan.
Namun, likuiditas yang baik juga harus dikelola secara bijak. Terlalu banyak dana menganggur tanpa dimanfaatkan untuk kegiatan produktif dapat mengurangi peluang pertumbuhan.
Karena itu, manajemen perlu menyeimbangkan keamanan kas dengan efektivitas penggunaan aset.
Dalam konteks perusahaan manufaktur, likuiditas membantu menjaga kelancaran produksi.
Jika kas dan aset lancar tidak cukup, perusahaan dapat mengalami gangguan dalam membeli bahan baku, membayar pemasok, atau memenuhi pesanan pasar.
Struktur Modal Perlu Dikendalikan
Penelitian ini memberi pesan bahwa struktur modal perusahaan tidak cukup dinilai dari besarnya aset atau skala usaha.
Keuangan perusahaan yang sehat juga ditentukan oleh kemampuan menghasilkan laba dan memenuhi kewajiban jangka pendek.
Keputusan menggunakan utang perlu dilakukan secara hati-hati. Utang memang dapat membantu perusahaan memperluas usaha, tetapi jika porsinya terlalu besar, beban biaya modal dapat meningkat dan menekan keuntungan.
Dalam jangka panjang, ketergantungan utang yang tidak terkendali dapat melemahkan stabilitas perusahaan.
Melalui perspektif Pecking Order Theory, perusahaan didorong untuk lebih cermat membaca kondisi internal sebelum mengambil keputusan pendanaan.
Dana internal, profitabilitas, likuiditas, dan kemampuan membayar kewajiban perlu menjadi pertimbangan utama.
Pada akhirnya, struktur modal yang sehat bukan hanya soal mendapatkan modal, tetapi memilih sumber dana yang paling sesuai dengan kemampuan perusahaan.
Perusahaan yang mampu menjaga laba dan likuiditas akan lebih siap bertahan, tumbuh, dan menghadapi persaingan bisnis secara berkelanjutan.
Sumber Jurnal: Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















