Manajemen.umsida.ac.id – Dalam menjalankan bisnis, perusahaan tidak hanya dituntut mampu menjual produk dan menghasilkan laba.
Di balik aktivitas operasional, ada keputusan penting yang sangat menentukan keberlanjutan perusahaan, yaitu bagaimana perusahaan memilih sumber pendanaan.
Keputusan ini berkaitan erat dengan struktur modal, yakni komposisi antara modal sendiri dan utang yang digunakan untuk membiayai kegiatan usaha.
Isu tersebut menjadi perhatian dalam penelitian berjudul “Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)” yang dilakukan oleh Ika Oktaviyanti SE MM, dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Penelitian ini membahas struktur modal perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018–2021.
Melalui perspektif Pecking Order Theory, penelitian ini melihat bagaimana perusahaan menentukan urutan sumber pendanaan, mulai dari dana internal, utang, hingga penerbitan saham baru.
Baca juga: Fresh Graduate dan Kontrak Kerja, Bekal Penting Memulai Karier dengan Lebih Aman
Dana Internal Jadi Pilihan Awal

Pecking Order Theory menjelaskan bahwa perusahaan cenderung lebih memilih pendanaan dari dalam perusahaan terlebih dahulu.
Sumber ini dapat berasal dari laba ditahan atau hasil usaha yang tidak langsung dibagikan kepada pemilik modal.
Pilihan tersebut dianggap lebih aman karena perusahaan tidak perlu menanggung beban bunga atau risiko tambahan dari pihak luar.
Dengan menggunakan dana internal, perusahaan juga dapat menjaga kendali usaha tanpa harus menambah kewajiban atau melepas sebagian kepemilikan melalui penerbitan saham baru.
“Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa keputusan pendanaan tidak boleh dilakukan secara sembarangan,” terangnya.
“Perusahaan perlu melihat kemampuan internal terlebih dahulu sebelum mengambil langkah pendanaan dari luar,” jelasnya.
Bagi perusahaan manufaktur, strategi ini menjadi penting karena kegiatan produksi membutuhkan biaya besar, mulai dari bahan baku, tenaga kerja, mesin, distribusi, hingga pengembangan usaha.
Lihat juga: Manajemen Strategis Jadi Kunci Organisasi Bertahan di Era Disrupsi Digital
Utang Perlu Dikelola Hati-Hati

Jika dana internal belum mencukupi, perusahaan biasanya akan mempertimbangkan penggunaan utang.
Dalam Pecking Order Theory, utang menjadi pilihan kedua setelah pendanaan internal. Pilihan ini dapat membantu perusahaan memenuhi kebutuhan modal tanpa harus menerbitkan saham baru.
Namun, utang bukan tanpa risiko. Jika tidak dikelola dengan hati-hati, beban kewajiban dapat menekan arus kas dan mengganggu stabilitas perusahaan.
Perusahaan yang terlalu bergantung pada utang berisiko menghadapi tekanan keuangan, terutama ketika pendapatan menurun atau biaya operasional meningkat.
Di sinilah pentingnya manajemen keuangan yang cermat.
Perusahaan perlu menilai kemampuan membayar, tingkat profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan sebelum memutuskan menambah pinjaman.
Struktur Modal Menentukan Keberlanjutan
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa struktur modal tidak dapat dipisahkan dari kondisi keuangan perusahaan.
Profitabilitas, likuiditas, dan ukuran perusahaan menjadi faktor yang memengaruhi keputusan pendanaan.
Perusahaan dengan laba yang kuat biasanya memiliki ruang lebih besar untuk menggunakan dana internal.
Sementara itu, perusahaan yang likuid lebih mampu memenuhi kewajiban jangka pendek sehingga tidak mudah bergantung pada pendanaan eksternal.
Bagi dunia manajemen, penelitian ini memberi pesan bahwa struktur modal bukan sekadar persoalan angka dalam laporan keuangan.
Struktur modal mencerminkan strategi, kehati-hatian, dan kemampuan perusahaan menjaga keberlanjutan bisnis.
Pada akhirnya, Pecking Order Theory mengingatkan bahwa perusahaan perlu memiliki prioritas dalam memilih sumber dana.
Pendanaan yang sehat bukan yang paling mudah diperoleh, tetapi yang paling sesuai dengan kondisi dan kemampuan perusahaan.
Sumber Jurnal: Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















