Tak Sekadar Besar, Perusahaan Perlu Cermat Menjaga Struktur Modal

Manajemen.umsida.ac.id – Ukuran perusahaan sering dianggap sebagai simbol kekuatan bisnis. Perusahaan besar biasanya memiliki aset lebih banyak, jaringan usaha lebih luas, serta kepercayaan lebih tinggi dari investor maupun kreditur.

Kondisi ini membuat perusahaan berskala besar cenderung lebih mudah memperoleh akses pendanaan dibandingkan perusahaan kecil.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penelitian berjudul “Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)” yang dilakukan oleh Ika Oktaviyanti SE MM, dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida)

Melalui perspektif Pecking Order Theory, penelitian ini membahas bagaimana perusahaan manufaktur menentukan struktur modalnya.

Salah satu variabel penting yang dikaji adalah ukuran perusahaan, terutama kaitannya dengan kemudahan memperoleh pinjaman dan keputusan menggunakan sumber pendanaan eksternal.

Baca juga: Laba dan Likuiditas Sehat Bantu Perusahaan Kurangi Ketergantungan Utang

Perusahaan Besar Lebih Mudah Didanai
Sumber: Pexels

Dalam dunia bisnis, perusahaan besar umumnya memiliki posisi tawar yang lebih kuat.

Aset yang besar, rekam jejak usaha, dan kapasitas operasional yang luas membuat kreditur lebih percaya untuk memberikan pinjaman.

Semakin besar skala perusahaan, semakin besar pula peluang perusahaan memperoleh sumber pendanaan dari luar.

Hal ini berbeda dengan perusahaan kecil yang sering menghadapi keterbatasan akses modal.

Perusahaan kecil biasanya belum memiliki aset besar sebagai jaminan, belum memiliki histori keuangan yang panjang, atau belum cukup kuat dalam meyakinkan pihak pemberi dana.

“Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa ukuran perusahaan dapat memengaruhi kepercayaan kreditur,” terangnya.

“Perusahaan yang lebih besar biasanya dinilai lebih mampu memenuhi kewajiban, sehingga akses terhadap pendanaan menjadi lebih terbuka,” jelasnya.

Namun, kemudahan memperoleh pinjaman bukan berarti perusahaan dapat menggunakan utang tanpa pertimbangan.

Justru, semakin besar akses pendanaan, semakin besar pula tanggung jawab manajemen dalam menjaga keseimbangan struktur modal.

Lihat juga: Anti Gabut Saat Liburan, Ini 8 Kegiatan Produktif Penambah Cuan

Akses Modal Perlu Diimbangi Kendali
Sumber: Ilustrasi AI

Ukuran perusahaan memang dapat menjadi keuntungan, tetapi juga dapat membawa risiko.

Perusahaan besar cenderung memiliki kebutuhan modal yang lebih kompleks, mulai dari pembelian bahan baku, pengembangan fasilitas produksi, distribusi, hingga ekspansi pasar.

Jika seluruh kebutuhan tersebut terlalu banyak ditopang oleh utang, maka beban perusahaan dapat meningkat.

Utang yang awalnya digunakan untuk memperkuat bisnis dapat berubah menjadi tekanan jika tidak dikelola dengan hati-hati.

Dalam perspektif Pecking Order Theory, perusahaan idealnya menggunakan dana internal terlebih dahulu.

Jika dana internal belum mencukupi, perusahaan dapat mempertimbangkan utang. Penerbitan saham baru biasanya menjadi pilihan terakhir.

Urutan ini menunjukkan bahwa keputusan pendanaan perlu dilakukan secara bertahap dan rasional.

Utang Besar Bisa Menekan Laba

Bagi perusahaan manufaktur, struktur modal yang tidak seimbang dapat berdampak langsung pada profitabilitas.

Beban bunga, kewajiban pembayaran, dan risiko likuiditas dapat mengurangi ruang perusahaan untuk menghasilkan laba optimal.

Karena itu, perusahaan besar tetap perlu berhati-hati. Skala usaha yang luas bukan jaminan bahwa perusahaan selalu aman secara keuangan.

Jika manajemen terlalu agresif menambah utang tanpa memperhitungkan kemampuan membayar, stabilitas perusahaan dapat terganggu.

Penelitian ini memberi pesan penting bahwa ukuran perusahaan harus dibaca secara kritis.

Besarnya aset dan kemudahan akses pendanaan memang menjadi keunggulan, tetapi bukan alasan untuk mengabaikan risiko keuangan.

Pada akhirnya, struktur modal yang sehat membutuhkan keseimbangan antara modal sendiri dan pinjaman.

Perusahaan yang besar bukan hanya ditentukan oleh asetnya, tetapi juga oleh kecermatan manajemen dalam memilih sumber dana, mengendalikan utang, dan menjaga keberlanjutan usaha.

Sumber Jurnal: Pecking Order Theory Perspective In The Study Of Company Capital Structure (Study On Manufacturing Companies On The Indonesia Stock Exchange)

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Bertita Terkini

Laba dan Likuiditas Sehat Bantu Perusahaan Kurangi Ketergantungan Utang
July 17, 2026By
Pecking Order Theory Ungkap Urutan Aman Pendanaan Perusahaan Manufaktur
July 13, 2026By
Tantangan Manajemen Organisasi Modern: Antara Strategi, Tim, dan Adaptasi Perubahan
July 9, 2026By
Manajemen Strategis Jadi Kunci Organisasi Bertahan di Era Disrupsi Digital
July 5, 2026By
Lima Tren HR 2026 Dorong Transformasi SDM Indonesia Menuju Era Kerja Berbasis Digital
July 1, 2026By
Beban Kerja Tinggi Tak Selalu Turunkan Produktivitas, Riset Umsida Ungkap Kuncinya
June 27, 2026By
Apresiasi dan Kolaborasi Jadi Kunci, Motivasi Kerja Terbukti Dongkrak Produktivitas
June 23, 2026By
Tingkatkan Kemampuan Analisis dan Penulisan Karya Tulis Ilmiah: Pelatihan Olah Data Prodi Manajemen Umsida Batch 2 Tahun 2026 Berlangsung Interaktif dan Berbasis Praktik
June 19, 2026By

Prestasi

Bangga, Mahasiswa Manajemen Umsida Raih Emas di Paku Bumi Championship 2026
April 15, 2026By
Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu, Tunjukkan Kemampuan Tanpa Batas di Batu Karate Challenge 2025
January 10, 2026By
Latihan Konsisten Antar Achnaf Naik Podium Meski Tanding dengan Cedera
January 6, 2026By
Latihan Disiplin Jadi Kunci Hani Hidayah Tembus Kejuaraan Taekwondo
January 2, 2026By
Galuh, Wisudawan Berprestasi, Sabet Juara 3 di International Conference 2024
December 9, 2025By
Juara 1 Unilever Entrepreneurship Bootcamp Strategi Marketing Kreatif: Handoko Sabet Penghargaan Wisudawan Berprestasi
December 5, 2025By
Inovasi Ekowisata Desa Pandean Bawa Akmal Menjadi Wisudawan Berprestasi Umsida 46
December 1, 2025By
Perjuangan Ibu 2 Anak yang Kuliah Hingga Meraih Predikat Wisudawan Berprestasi
November 27, 2025By