Manajemen.umsida.ac.id– Generasi Z atau Gen Z sering dianggap sulit bertahan di dunia kerja. Sebagian orang menilai generasi ini mudah menyerah, tidak tahan tekanan, dan sering berpindah pekerjaan.
Namun, apakah anggapan tersebut benar? Apakah Gen Z memang kurang tangguh? Atau justru lingkungan kerja belum mampu memahami kebutuhan generasi muda?
Fenomena ini menarik untuk dibahas melalui sudut pandang manajemen sumber daya manusia (SDM). Sebab, keberhasilan seseorang dalam bekerja tidak hanya bergantung pada kemampuan individu.
Budaya perusahaan, gaya kepemimpinan, dan lingkungan kerja juga memiliki peran penting. Oleh karena itu, persoalan ini perlu dilihat dari kedua sisi.
Gen Z Memiliki Pandangan Berbeda tentang Dunia Kerja
Setiap generasi memiliki cara pandang berbeda terhadap pekerjaan. Generasi sebelumnya sering menganggap masa kerja panjang sebagai bentuk loyalitas.
Sementara itu, sebagian Gen Z memiliki pandangan yang berbeda. Mereka tidak hanya mencari penghasilan, tetapi juga ingin berkembang dan memiliki kehidupan yang seimbang.
Selain itu, Gen Z cenderung memperhatikan lingkungan kerja dan kesempatan meningkatkan kemampuan. Mereka ingin pekerjaan yang dijalani memberikan manfaat bagi masa depan.
Berdasarkan survei Deloitte Global tahun 2025, sebanyak 89 persen responden Gen Z menganggap pekerjaan yang bermakna penting bagi kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka.
Survei tersebut melibatkan 23.482 responden Gen Z dan milenial dari 44 negara. Hasilnya juga menunjukkan bahwa 48 persen responden Gen Z merasa tidak aman secara finansial.
Data ini menunjukkan bahwa persoalan keuangan dan makna pekerjaan menjadi perhatian generasi muda. Namun, temuan tersebut tidak berarti seluruh Gen Z mudah berpindah pekerjaan.
Karena itu, keinginan mencari lingkungan kerja yang lebih baik tidak selalu menunjukkan sikap tidak loyal. Bisa jadi, mereka memiliki kebutuhan dan tujuan karier yang berbeda.
Budaya Kerja Menjadi Tantangan bagi Generasi Muda

Dalam ilmu manajemen, mempertahankan karyawan merupakan bagian penting dari pengelolaan sumber daya manusia. Istilah ini dikenal sebagai employee retention.
Perusahaan perlu menciptakan lingkungan kerja yang membuat karyawan nyaman dan produktif. Dengan demikian, karyawan memiliki alasan untuk terus berkembang bersama organisasi.
Namun, tidak semua perusahaan mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Ada lingkungan kerja yang masih menerapkan komunikasi satu arah dan kurang memperhatikan masukan karyawan.
Selain itu, beban pekerjaan yang tidak seimbang dapat memengaruhi kepuasan kerja. Kondisi ini berpotensi membuat karyawan mempertimbangkan peluang di tempat lain.
Oleh sebab itu, perusahaan perlu mengevaluasi sistem pengelolaan karyawan. Evaluasi dapat dimulai dari pola komunikasi, pembagian tugas, hingga kesempatan pengembangan karier.
Meski begitu, Gen Z juga perlu memahami bahwa dunia kerja memiliki berbagai tantangan. Setiap pekerjaan menuntut kedisiplinan, tanggung jawab, dan kemampuan menghadapi tekanan.
Tidak semua kritik dari atasan merupakan perlakuan buruk. Terkadang, kritik menjadi bagian dari proses belajar dan meningkatkan kemampuan.
Karena itu, generasi muda perlu membangun sikap profesional. Mereka juga harus mampu menyelesaikan masalah sebelum memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan.
Lihat Juga: Bukan Sekadar Pintar, Mahasiswa Manajemen Umsida Perlu Bangun Integritas Sejak Kuliah
Perusahaan dan Gen Z Perlu Saling Beradaptasi

Perubahan karakter tenaga kerja menjadi tantangan baru dalam dunia manajemen. Perusahaan tidak bisa terus menggunakan pendekatan yang sama untuk setiap generasi.
Sebaliknya, perusahaan perlu memahami kebutuhan karyawan tanpa mengabaikan tujuan organisasi. Komunikasi terbuka menjadi salah satu langkah yang dapat diterapkan.
Selain itu, perusahaan dapat menyediakan pelatihan dan kesempatan pengembangan karier. Lingkungan kerja yang mendukung juga dapat meningkatkan motivasi karyawan.
Di sisi lain, Gen Z harus mempersiapkan kemampuan yang dibutuhkan dunia profesional. Kemampuan komunikasi, kerja sama, dan manajemen waktu menjadi bekal penting.
Mereka juga perlu memiliki ketahanan mental dalam menghadapi tantangan pekerjaan. Sebab, dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Bagi mahasiswa Manajemen, fenomena ini memberikan pembelajaran tentang pentingnya pengelolaan SDM. Seorang manajer tidak hanya bertugas memberikan instruksi kepada karyawan.
Lebih dari itu, manajer perlu memahami karakter, motivasi, dan kebutuhan setiap individu. Pemahaman tersebut membantu organisasi membangun hubungan kerja yang lebih baik.
Pada akhirnya, sulitnya Gen Z bertahan di dunia kerja tidak bisa langsung menjadi kesalahan satu pihak. Perusahaan dan karyawan sama-sama memiliki tanggung jawab.
Perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang mendukung. Sementara itu, Gen Z harus menunjukkan komitmen, kedisiplinan, dan kemampuan beradaptasi.
Dengan demikian, hubungan kerja dapat berjalan lebih sehat dan produktif. Sebab, keberhasilan dunia kerja bukan hanya tentang bertahan lama, tetapi juga tentang tumbuh dan berkembang bersama.
Sumber Referensi: Deloitte Global. (2025). 2025 Gen Z and Millennial Survey. Laporan mengenai pandangan Gen Z dan milenial terhadap dunia kerja, kesejahteraan, serta pengembangan karier. https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/talent/2025-gen-z-millennial-survey.html
Editor: Selvy Dwi Machmuda


















