Manajemen.umsida.ac.id – Keberanian memulai dari nol dan konsistensi dalam berlatih mengantarkan Hani Hidayah, mahasiswi Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, meraih pengalaman berharga di dunia olahraga bela diri.
Meski masih berstatus atlet pemula, mahasiswa semester satu ini berhasil membawa pulang medali perak pada ajang Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3.
Bagi Hani, keikutsertaannya dalam kejuaraan tersebut bukan semata soal hasil, melainkan keberanian untuk melawan rasa takut dan membuktikan bahwa proses belajar dapat membawa perkembangan nyata.
Ia mengaku sempat merasa ragu saat pertama kali memasuki arena pertandingan, terutama ketika melihat lawan yang tampak lebih berpengalaman dan memiliki postur tubuh lebih besar.

“Sebelum tanding aku sempat pasrah karena melihat lawan yang terlihat kuat. Baru setelah pertandingan aku tahu kalau lawanku sesama perempuan,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat Hani harus beradaptasi cepat, meskipun dirinya mengakui masih berada pada tahap awal mempelajari teknik taekwondo.
Sebagai atlet pemula, Hani tetap berusaha fokus dan menyelesaikan pertandingan hingga akhir.
Meski fisiknya belum sepenuhnya siap dan sempat menahan rasa sakit, ia memilih untuk menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran berharga untuk berkembang ke depannya.
Baca juga: Frans Mahasiswa Akuntansi Umsida Sabet Juara 2 Taekwondo KBPP Polri Jatim Cup 3
Disiplin Latihan dan Dukungan Lingkungan Kampus
Persiapan menuju kejuaraan dijalani Hani dengan jadwal latihan rutin tiga kali dalam sepekan, yakni setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Latihan dilakukan secara konsisten di sela aktivitas perkuliahan, meskipun ia mengakui proses tersebut cukup melelahkan.
“Latihannya Selasa, Kamis, dan Sabtu. Capek, tapi memang harus dijalani kalau mau serius,” ujarnya.
Setelah pertandingan, Hani menerima evaluasi dari pelatih dan senior yang menilai bahwa latihan yang dilakukan masih perlu ditingkatkan.
Evaluasi tersebut justru menjadi refleksi penting baginya untuk memperbaiki kualitas latihan ke depan.
Tantangan lain yang dihadapi Hani adalah membagi waktu antara kuliah, latihan, dan istirahat.
Tidak semua teman seangkatannya terbiasa dengan jadwal latihan yang padat, namun hal tersebut tidak menyurutkan tekadnya.
Lihat juga: Galuh, Wisudawan Berprestasi, Sabet Juara 3 di International Conference 2024
Selain itu, tantangan mental juga muncul karena sebagian atlet lain telah memiliki latar belakang bela diri sejak lama, sementara Hani benar-benar memulai dari nol.
Dukungan dari keluarga dan lingkungan kampus menjadi sumber motivasi utama.

Awalnya, sang ibu sempat khawatir dengan risiko cedera, namun seiring melihat komitmen Hani, dukungan penuh pun diberikan.
Teman-teman serta dukungan dari Umsida, mulai dari fasilitas latihan hingga perizinan akademik, turut memberi energi tambahan baginya.
Hani pun berpesan kepada mahasiswa Umsida lainnya agar tidak takut memulai meski merasa tertinggal.
Menurutnya, proses, konsistensi, dan keberanian mencoba merupakan kunci utama dalam mengembangkan potensi diri.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah
















