Manajemen.umsida.ac.id – Dalam beberapa tahun terakhir, industri startup di Indonesia menghadapi tantangan besar.
Setelah sempat mengalami pertumbuhan pesat dan menjadi simbol ekonomi digital, banyak perusahaan rintisan justru melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) dalam jumlah besar sepanjang periode 2023 hingga 2025.
Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan, tidak hanya terkait kondisi ekonomi global, tetapi juga mengenai bagaimana perusahaan mengelola sumber daya manusia sejak awal.
Di balik keputusan PHK yang terjadi, terdapat persoalan yang lebih mendasar.
Banyak startup sebelumnya melakukan ekspansi tenaga kerja secara agresif demi menunjukkan pertumbuhan bisnis yang cepat di hadapan investor.
Perekrutan dalam jumlah besar dianggap sebagai indikator perkembangan perusahaan, padahal belum tentu diikuti dengan kebutuhan operasional yang benar-benar matang.
Akibatnya, ketika kondisi bisnis berubah, karyawan menjadi pihak yang paling terdampak.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memperoleh pendanaan, tetapi juga oleh kualitas perencanaan sumber daya manusia yang berorientasi pada keberlanjutan.
Baca juga: Budaya Hustle di Kalangan Mahasiswa: Produktif atau Diam-Diam Memicu Burnout?
Rekrutmen Demi Mengejar Pertumbuhan

Masa keemasan startup mendorong banyak perusahaan berlomba-lomba memperbesar tim dalam waktu singkat.
Berbagai posisi baru dibuka untuk mendukung ekspansi bisnis, pengembangan produk, hingga strategi pemasaran yang agresif.
Di satu sisi, langkah tersebut memang memberikan peluang kerja yang besar bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Namun, tidak sedikit proses rekrutmen dilakukan tanpa analisis kebutuhan yang mendalam.
Beberapa posisi dibentuk hanya untuk memenuhi target pertumbuhan perusahaan atau memperlihatkan skala organisasi yang lebih besar kepada calon investor.
Akibatnya, ketika strategi bisnis berubah atau pendanaan mulai melambat, perusahaan kesulitan mempertahankan struktur organisasi yang telah dibangun.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perekrutan seharusnya tidak hanya berfokus pada kebutuhan jangka pendek, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan bisnis dalam jangka panjang.
Setiap posisi perlu memiliki tujuan yang jelas, kontribusi yang terukur, serta relevansi terhadap arah perkembangan perusahaan.
Lihat juga: Tak Sekadar Besar, Perusahaan Perlu Cermat Menjaga Struktur Modal
Struktur Organisasi Perlu Matang

Selain proses rekrutmen, pembentukan struktur organisasi juga menjadi tantangan tersendiri.
Dalam situasi pertumbuhan yang sangat cepat, perusahaan sering kali membentuk divisi atau jabatan baru tanpa perencanaan yang matang.
Akibatnya, muncul tumpang tindih tugas, ketidakjelasan tanggung jawab, hingga peran yang kehilangan fungsi ketika perusahaan mulai melakukan efisiensi.
Struktur organisasi yang sehat seharusnya dibangun berdasarkan kebutuhan bisnis, bukan sekadar mengikuti tren pertumbuhan.
Setiap individu perlu memahami perannya dalam mendukung tujuan perusahaan sehingga kolaborasi dapat berjalan lebih efektif.
Manajemen sumber daya manusia juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengembangan organisasi dilakukan secara bertahap dan adaptif.
Dengan demikian, perusahaan tidak hanya mampu tumbuh lebih stabil, tetapi juga memiliki ketahanan ketika menghadapi perubahan kondisi ekonomi maupun persaingan pasar.
Membangun SDM yang Berkelanjutan
Gelombang PHK di industri startup menjadi pelajaran penting bahwa pengelolaan sumber daya manusia harus menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar aktivitas administratif.
Perencanaan tenaga kerja perlu disusun berdasarkan kebutuhan riil perusahaan, kemampuan finansial, serta proyeksi perkembangan bisnis yang realistis.
Apabila kondisi perusahaan memang mengharuskan adanya pengurangan tenaga kerja, proses tersebut sebaiknya dilakukan dengan mengedepankan nilai kemanusiaan.
Komunikasi yang terbuka, pemberian hak karyawan secara adil, hingga dukungan dalam proses transisi karier merupakan bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap para pekerja yang telah berkontribusi.
Pada akhirnya, keberhasilan startup tidak hanya diukur dari besarnya pendanaan atau jumlah karyawan yang dimiliki, tetapi juga dari kemampuan membangun organisasi yang sehat dan berkelanjutan.
Rekrutmen yang tepat sasaran, struktur organisasi yang matang, serta manajemen sumber daya manusia yang berorientasi pada manusia akan menjadi fondasi penting bagi perusahaan untuk terus bertumbuh tanpa mengorbankan kesejahteraan para pekerjanya.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















