Agile dalam Manajemen Proyek Dari Cara Kerja Tim IT Menjadi Strategi Bertahan Perusahaan

Manajemen.umsida.ac.id – Dulu, manajemen proyek identik dengan rencana tebal, jadwal ketat, dan target yang ditetapkan sejak awal.

Model ini cocok ketika kebutuhan pasar stabil dan perubahan terjadi pelan.

Masalahnya, dunia bisnis sekarang bergerak sebaliknya: tren konsumen cepat bergeser, teknologi terus muncul, dan kompetitor bisa datang dari arah yang tidak terduga.

Dalam kondisi seperti ini, proyek yang terlalu “kaku” berisiko selesai tepat waktu tetapi tidak lagi relevan.

Di titik itulah metode Agile mendapat panggung yang lebih luas.

Agile awalnya populer di pengembangan perangkat lunak, namun kini diadopsi lintas industry mulai dari perbankan, manufaktur, pendidikan, kesehatan, hingga sektor layanan publik.

Intinya sederhana: bekerja dalam siklus pendek, meninjau hasil secara rutin, lalu menyesuaikan langkah berdasarkan umpan balik nyata.

Bukan berarti tanpa rencana, tetapi rencana dibuat lebih adaptif dan selalu bisa dikoreksi.

Baca juga: Coaching Class Prodi Manajemen : Bekal Strategis Hadapi Penelitian dan Publikasi Ilmia

Mengapa Agile Membuat Proyek Lebih Fleksibel
Sumber: Pexels

Agile meningkatkan fleksibilitas karena proyek tidak dipaksakan berjalan lurus dari awal sampai akhir.

Tim bekerja dalam iterasi, misalnya dua minggu sekali, menghasilkan keluaran kecil yang bisa diuji atau dipakai.

Dengan cara ini, perusahaan bisa cepat mengetahui apakah arah proyek sudah tepat.

Jika pasar berubah, penyesuaian bisa dilakukan di tengah jalan tanpa harus “membongkar” semuanya.

Fleksibilitas ini terasa penting ketika organisasi menghadapi ketidakpastian: perubahan regulasi, tren media sosial, krisis pasokan, hingga pergeseran perilaku pelanggan.

Agile juga mendorong transparansi kerja. Progres terlihat jelas, hambatan cepat terdeteksi, dan komunikasi lintas fungsi menjadi lebih terstruktur.

Banyak proyek gagal bukan karena kurang pintar, tetapi karena koordinasi lemah dan keputusan terlambat.

Agile menekan masalah ini dengan ritme rapat singkat, prioritas yang jelas, dan evaluasi rutin.

Selain itu, Agile mendorong fokus pada nilai. Alih-alih menumpuk daftar pekerjaan, tim memilih tugas yang paling berdampak bagi pengguna atau pelanggan.

Ini membuat anggaran dan energi organisasi lebih efektif, terutama ketika sumber daya terbatas.

Lihat juga: Pemimpin Perempuan Berdaya: Dekan FBHIS Umsida Sabet Outstanding GAD Partners Award

Tantangan Adopsi Agile di Luar Dunia Teknologi

Meski terdengar ideal, Agile tidak otomatis cocok jika hanya “di-copy paste” sebagai template. Tantangan terbesar biasanya bukan alat, melainkan budaya.

Banyak organisasi masih terbiasa dengan struktur hierarkis, keputusan serba top-down, dan pola kerja yang mengukur kinerja dari kepatuhan pada rencana, bukan hasil.

Ketika Agile masuk, tim diminta berkolaborasi lintas divisi, mengambil keputusan lebih cepat, dan menerima bahwa perubahan itu normal.

Tanpa dukungan pimpinan, Agile hanya jadi jargon.

Industri seperti manufaktur atau konstruksi juga memiliki batasan fisik: tidak semua hal bisa diubah cepat karena menyangkut mesin, material, dan standar keselamatan.

Namun Agile tetap bisa relevan pada bagian yang lebih “dinamis”, seperti pengembangan produk, pemasaran, rantai pasok, atau layanan pelanggan.

Kuncinya adalah memilih area yang tepat dan menyesuaikan praktiknya.

Agar Agile benar-benar meningkatkan responsivitas terhadap pasar, perusahaan perlu memulai dari masalah nyata, bukan tren.

Tentukan tujuan yang jelas, bentuk tim kecil lintas fungsi, buat siklus kerja singkat, dan ukur hasil dari dampak ke pelanggan.

Bila dilakukan konsisten, Agile bukan sekadar metode manajemen proyek, melainkan cara organisasi belajar lebih cepat daripada perubahan itu sendiri.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Bertita Terkini

Ketika Kebebasan Menjadi Kunci: Fleksibilitas Waktu dan Rahasia Tingginya Kinerja Driver Gojek
February 9, 2026By
Kompensasi yang Menentukan Arah Setir: Mengapa Kinerja Driver Gojek Bertumpu pada Sistem Balas Jasa yang Adil
February 4, 2026By
Manajemen SDM di Era Hybrid Working: Efisiensi Modern atau Ancaman Baru bagi Produktivitas?
January 26, 2026By
Manajemen Pemasaran: Mengapa Brand yang Baik Bukan Sekadar Logo
January 22, 2026By
Sustainability dan Manajemen Bisnis: Menjaga Keseimbangan Antara Keuntungan dan Lingkungan
January 18, 2026By
Manajemen Stakeholder Kunci Keberhasilan Proyek Bukan Cuma Soal Timeline
January 14, 2026By
Coaching Class Prodi Manajemen : Bekal Strategis Hadapi Penelitian dan Publikasi Ilmia
December 25, 2025By
Wawancara Aslab Manajemen UMSIDA : Langkah Awal Menjadi Asisten Laboratorium yang Kompeten
December 21, 2025By

Prestasi

Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu, Tunjukkan Kemampuan Tanpa Batas di Batu Karate Challenge 2025
January 10, 2026By
Latihan Konsisten Antar Achnaf Naik Podium Meski Tanding dengan Cedera
January 6, 2026By
Latihan Disiplin Jadi Kunci Hani Hidayah Tembus Kejuaraan Taekwondo
January 2, 2026By
Galuh, Wisudawan Berprestasi, Sabet Juara 3 di International Conference 2024
December 9, 2025By
Juara 1 Unilever Entrepreneurship Bootcamp Strategi Marketing Kreatif: Handoko Sabet Penghargaan Wisudawan Berprestasi
December 5, 2025By
Inovasi Ekowisata Desa Pandean Bawa Akmal Menjadi Wisudawan Berprestasi Umsida 46
December 1, 2025By
Perjuangan Ibu 2 Anak yang Kuliah Hingga Meraih Predikat Wisudawan Berprestasi
November 27, 2025By
Hadapi Tantangan Raih Prestasi, Febi Putri Maharani Jadi Wisudawan Berprestasi FBHIS
November 23, 2025By